Prita Mulyasari & Teknologi Informasi

Masih ingat kasus Prita Mulyasari, seorang Wanita – Blogger Indonesia yang didakwa melakukan pencemaran nama baik Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera – Serpong – Tanggerang melalui surat elektronik atau e-mail (komputer – teknologi informasi)

Dibawah ini adalah kelanjutan perkaranya. Saya mengangkat kembali kasus ini untuk menjadi perhatian semua pihak. Ikuti seterusnya sebagai berikut :

RABU, 7 OKTOBER 2009 | 19:04 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com — Prita Mulyasari (32), terdakwa perkara pidana dugaan pencemaran nama baik Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera, Serpong, Tangerang, masih tetap sabar menghadapi persidangan yang masih panjang. Dalam sidang kelima yang digelar kembali di Pengadilan Negeri Tangerang, Rabu (7/10), dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli, Prita tampak segar.

“Fisik dan mental saya sudah kembali membaik. Saya siap maju terus menghadapi persidangan yang masih panjang ini,” ujar Prita kepada Kompas, seusai sidang yang dipimpin Majelis Hakim Arthur Hangewa di ruang sidang utama.

Sidang pada Rabu ini menghadirkan saksi ahli komputer dan teknologi informasi dari Universitas Indonesia, Wahyu Catur Wibowo. Sidang yang dilanjutkan pekan depan masih akan menghadirkan saksi ahli, antara lain, pakar Telematika Roy Suryo dan ahli medis Herutanto.

Menurut Prita, dirinya harus sabar menghadapi perkara yang dituduhkan kepadanya selama setahun terakhir ini. Prita banyak mengambil hikmah positif atas peristiwa yang menimpanya.

“Intinya saya harus lebih ikhlas, sabar, tawakal, dan memasrahkan diri kepada kehendak-Nya karena semua sudah ditakdirkan-Nya,” ungkap Prita yang masih terus didampingi suaminya, Andre Nugroho, dan tiga kakaknya.

Menurut Prita, hikmah terbesar dari kasus ini adalah kedekatan dirinya pada Sang Pencipta dan keluarga. Prita juga mengaku siap dengan segala kemungkinan yang terburuk sekalipun.

Keluhan atas buruknya pelayanan Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera Serpong, Tangerang, yang dibuat Prita Mulyasari melalui surat elektronik atau e-mail, dinilai saksi ahli adalah wajar. Surat yang dikirim kepada 20 temannya itu disebarluaskan dalam situasi di mana pelaksanaan undang-undang perlindungan konsumen hingga kini masih sangat lemah.

“Jadi wajar jika Prita mengeluh kepada teman-temannya melalui internet karena dia tidak mau pengalaman yang menimpanya tidak terjadi kepada orang lain,” papar saksi ahli komputer dan teknologi informasi dari Universitas Indonesia, Wahyu Catur Wibowo, dalam sidang yang dipimpin majelis hakim Arthur Hangewa di Pengadilan Negeri Tangerang, Rabu (7/10).

Dalam sidang lanjutan perkara pidana dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan Prita terhadap RS Omni Internasional Alam Sutera, Wahyu mendapat banyak pertanyaan dari mejelis hakim, jaksa penuntut umum, dan pengacara terdakwa Prita seputar hal-hal teknis mengenai e-mail dan penyebarannya.

Menurut Wahyu, surat yang dimuat di internet dalam hal ini melalui e-mail sifatnya berantai. Artinya, kata Wahyu, surat tersebut bisa dengan mudah disebarluaskan dan isinya dapat diketahui banyak orang. Namun, kata Wahyu, dalam menulis surat kita harus juga berhati-hati jangan sampai orang yang ditulis itu tidak menerima kritikan tersebut.

Dari pengamatan di jaringan internet, Wahyu menemukan, Prita menuliskan surat kepada 20 temannya. Prita sendiri tidak menyebarluaskan surat keluhannya melalui jaringan internet. “Bukan Prita yang menyebarluaskan surat keluhan itu, tetapi dia (Prita) sebagai pemicu terbesarnya keluhan itu,” papar Wahyu.

Menurut Wahyu, yang menyebarluaskan surat keluhannya adalah teman-temannya. “Tapi dia (Prita) lah yang menjadi pemicu tersebarnya surat tersebut,” ungkap Wahyu.

Menurut Wahyu, surat keluhan yang dibuat Prita tidak ada mengandung unsur kesalahan dan tak melanggar selama isi surat itu benar adanya dan berdasarkan fakta. “Yang akan menjadi masalah adalah jika mengandung unsur pidana yakni jika isi beritanya bohong,” tambah Wahyu.

Kasus pencemaran nama baik, fitnah, ataupun penghinaan seperti yang menerpa Prita Mulyasari, terdakwa pencemaran nama baik manajemen RS Omni Internasional, seharusnya tidak sampai ke hukum pidana.

“Jangan ada pemenjaraan untuk ungkapan ekspresi. Separah apa pun,” kata Atmakusumah Astraatmadja, pengajar tetap Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) dalam diskusi di LPDS Jakarta, Rabu (16/9).

“Saya tidak bisa mengerti di negara demokratis, masih ada orang yang dipenjara karena berekspresi,” tuturnya.

Prita, karyawan bank swasta yang memiliki dua anak yang masih kecil, didakwa dengan pasal berlapis, yakni Pasal 27 Ayat 3 UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 310 KUHP tentang Pencemaran Nama Baik, serta Pasal 311 KUHP.

Juniwati Gunawan (47), Direktur RS International Bintaro, menilai, surat elektronik Prita Mulyasari sebagai sebuah keluhan.

“Setelah saya baca secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa surat Ibu Prita adalah sebuah keluhan dari seorang pasien,” kata Juniwati dalam keterangannya sebagai saksi sidang Prita di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten (10/9).

Ia pun menyimpulkan bahwa keluhan tersebut akhirnya terungkap dalam surat elektronik karena ada komunikasi yang kurang berjalan baik antara Prita dan manajemen RS Omni International. “Itulah mengapa saya menambahkan catatan pada e-mail Ibu Prita yang di-forward ke saya, semoga hal itu (kasus Prita) tidak terjadi di rumah sakit kami,” papar Juniwati.

Surat elektronik itu sendiri, menurutnya, dikirim melalui e-mail dari Armen yang bertugas di kantor pusat RS International Bintaro. Prita dirawat di rumah sakit itu pada 12 Agustus-16 Agustus 2008 setelah tidak puas dengan pelayanan RS Omni International. Di rumah sakit itu, Prita didiagnosis berpenyakit gondongan.

Akibat perbuatan menulis keluhan melalui e-mail, karyawan bank swasta yang memiliki 2 anak itu diduga mencemarkan nama baik RS Omni International. Ia didakwa dengan pasal berlapis, yakni Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Pasal 310 KUHP tentang Pencemaran Nama Baik serta Pasal 311 KUHP.

Menurut Saya (Penulis), Bidang Teknologi Informasi adalah hasil rekayasa dari manusia modern terhadap proses penyampaian Informasi dari si pengirim informasi kepada si penerima informasi.

Jaringan Internet sebagai bagian dari bidang teknologi informasi, dirasa sangat berguna dan sangat bermanfaat dalam proses penyampaian informasi, dimana informasi dimaksud akan menjadi lebih cepat diterima, menjadi lebih luas akan penyebarannya, dan akan lebih lama untuk menyimpannya.

Saya memanfaatkan jaringan internet agar dapat memudahkan Saya untuk berbagi cerita tentang peristiwa terkini dan kabar terbaru serta apa saja diberbagai bidang kehidupan yang ingin Saya diskusikan dengan seluruh masyarakat Indonesia dan dunia.

Lewat jaringan internet (Situs Website – Blog atau Email) akan mendorong agar lebih terciptanya kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi melalui pikiran yang dituangkan lewat tulisan atau artikel.

Jaringan internet, adalah sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berbangsa dan bernegara, memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, memelihara stabilitas nasional sejalan dengan dinamika pembangunan dan kemajuan teknologi.

Explore posts in the same categories: Nasional, Pembangunan

Tag: , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: